213 Mahasiswa/i Universitas Muara Bungo ikuti Sidang Senat ke XVll di balroom Hotel Semagi

Bungo487 views

Globalberita.id – Bungo – Universitas Muara Bungo (UMB) kembali mengukir prestasi dengan menyelenggarakan Rapat Senat Terbuka Wisuda ke-XVII Program Sarjana (S1). Acara yang digelar secara khidmat pada Selasa, 23 Desember 2026, di Ballroom Hotel Semagi ini menjadi momen bersejarah bagi 213 wisudawan/wisudawati yang telah menyelesaikan studi dari enam program studi unggulan: Perikanan, Bahasa, Ekonomi, Hukum, Teknik, dan Pertanian.

Keberhasilan ini turut dirayakan oleh sejumlah tokoh kunci yang menghadiri acara, mencerminkan dukungan menyeluruh terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Bungo. Hadir antara lain Ketua Yayasan Pendidikan Mandiri Muara Bungo (YPMMB), H. Andriansyah, S.E., M.Si.; perwakilan Bupati Bungo, Dedy Putra; Ketua DPRD Bungo; serta Rektor UMB, Dr. Syafrialdi, S.Pi., M.Si. yang didampingi segenap jajaran Wakil Rektor dan Dekan.

Dukungan juga datang dari para pemangku kepentingan daerah, di antaranya Kapolres Bungo AKBP Natalena Eko Cahyono, Dandim Bungo Letkol Inf Dedy Pungky, dan perwakilan L2DIKTI Wilayah X Padang. Suasana semakin meriah dengan kehadiran tokoh masyarakat, tamu undangan, serta para wisudawan beserta keluarga yang memancarkan kebahagiaan dan kebanggaan.

Prosesi akademik dibuka dengan iringan anggota senat universitas yang terdiri dari pimpinan UMB dengan mengenakan toga kebesaran didampingi pasukan Mahasiswa Resimen (Menwa). Rapat senat kemudian secara resmi dibuka oleh Rektor UMB, Dr. Syafrialdi, S.Pi., M.Si., menandai dimulainya penyerahan gelar sarjana kepada para lulusan terbaik.

Wisuda ke-XVII ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah perayaan atas dedikasi, prestasi intelektual, dan kesiapan berkontribusi bagi bangsa. UMB kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter dan bertanggung jawab terhadap pembangunan daerah.

Dalam orasi kebangsaannya, Ketua Yayasan Pendidikan Mandiri UMB, H. Andriansyah, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya Ilmu Administrasi Lingkungan sebagai fondasi strategis yang menjembatani pembangunan dan keberlanjutan ekologis di Kabupaten Bungo.

“Pembangunan tidak lagi bisa dilihat semata sebagai pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik. Ia harus diiringi dengan tata kelola lingkungan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada generasi mendatang,” ujarnya.

Andriansyah menekankan bahwa administrasi lingkungan adalah janji kita kepada masa depan sebuah komitmen agar anak cucu di Muara Bungo tetap dapat menikmati air sungai yang jernih, udara segar, dan hutan yang lestari.

Lebih dari sekadar urusan birokrasi, administrasi dalam konteks lingkungan berperan sebagai instrumen keadilan ekologis, memastikan setiap kebijakan pembangunan tetap menjaga keseimbangan alam. Andriansyah pun menyoroti sejumlah tantangan lingkungan yang dihadapi Bungo saat ini:

-Bekas tambang yang terbengkalai tanpa reklamasi,

-Kerusakan daerah aliran sungai,

-Tekanan alih fungsi hutan akibat ekspansi perkebunan.

“Lubang-lubang bekas tambang yang tidak direklamasi bukan cuma masalah teknis, melainkan persoalan moral dan administrasi. Jaminan reklamasi adalah hutang yang wajib ditagih, demi keselamatan lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menyatakan bahwa pemerintah daerah memiliki peran sentral sebagai wali sumber daya alam, sehingga harus mengedepankan regulasi tegas, pengawasan aktif, dan visi pembangunan berwawasan lingkungan.

“Pemerintah daerah tidak boleh hanya menjadi pemberi izin, tapi harus menjadi penjaga dan pelindung alam. AMDAL harus menjadi harga mati, bukan sekadar pelengkap administratif,” tandasnya.

Kepada 213 wisudawan, Andriansyah berpesan agar ilmu yang diperoleh di kampus tidak berhenti di ruang kuliah, melainkan menjadi alat perubahan di masyarakat. Ia mendorong mereka untuk menjadi generasi solusi apakah sebagai birokrat, pengusaha, atau aktivis yang peduli lingkungan.

“Jadilah sarjana yang berpihak pada kelestarian. Jika kelak menjadi pejabat, jagalah hutan. Jika menjadi pengusaha, pulihkan lahan. Jika menjadi warga sipil, jadilah pengawas lingkungan yang berani,” pesannya.

Di akhir orasi, ia mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat untuk menjadikan kearifan lokal sebagai pedoman pembangunan.

“Batang nan berpucuk, tanah nan berakar, air nan beriak. Setiap langkah pembangunan harus punya dasar yang kuat dan memberi manfaat. Alam bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan titipan untuk dijaga,” pungkasnya penuh makna.

Dengan pesan yang visioner dan penuh tanggung jawab ini, Andriansyah menegaskan bahwa administrasi lingkungan adalah komitmen etis dan strategis untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di Bumi Bungo sebuah warisan yang kini diteruskan kepada 213 sarjana baru UMB.

Media Patner :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUT Kab Tebo Ke 26 th

News Feed