Ketua MD KAHMI Tebo Mengecam Keras Aksi Pengeroyokan Kader HMI di Kampus UIN STS Jambi

Nasional52 views

Globalberita.id ~ Kericuhan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kampus UIN STS Jambi mendapat sorotan dari berbagai pihak, mulai dari tokoh nasional Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) , KAHMI Jambi maupun alumni UIN STS Jambi.

Pasalnya pada kericuhan itu, menyebabkan kader HMI terluka, peristiwa itu terjadi pada saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Rabu (27/8/2025).

Dimana kader HMI yang sedang memperkenalkan organisasinya mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan hingga pemukulan menyebabkan kader HMI terluka.

Ketua MD KAHMI Tebo Syarfandi Arifarjasa mengatakan, kejadian ini bukan pertama kali terjadi di Kampus UIN STS Jambi, hampir setiap tahun saat pengenalan Mahasiswa baru.

Ia menilai Kampus UIN telah gagal menjadi lembaga pendidikan yang beradab dan berakhakul karimah.

“Dulu juga pernah terjadi, tapi damai bae, ini terjadi lagi, artinya Kampus tidak mampu menjadi lembaga pendidikan yang berintelektual yang membuat orang menjadi beradab dan berakhlakul karimah,” ujarnya Kamis (28/8/2025).

Seharusnya, Kampus UIN mencerminkan berakhakul karimah, yang mana Kampus tersebut Kampus Islam.

“Islam itu identik dengan berakhakul karimah, Saya sangat menyangkan pimpinan Kampus yang tak bisa membuat Kampus itu menjadi lembaga pendidikan yang beradab dan berakhlakul karimah,” ujarnya.

Ia menyarankan pihak pimpinan kampus UIN menjadi contoh Kampus Islam yang ada di Jambi.

“Pimpinan sekarang gagal, zaman sayo dulu dak ado terjadi seperti itu, sayo ini alumni UIN STS Jambi jugo, sayo kecewa dengan pimpinan sekarang,”ujarnya.

Ia meminta kepada pihak Kampus UIN memberikan ruang yang sama kepada setiap organisasi eksternal untuk memperkenalkan organisasi nya.

“UIN tidak menjamin memberi ruang yang sama kepada setiap organisasi walaupun mereka berbeda bendera, harus nya bisa menjamin itu, jangan biarkan ada yang tertekan teraniaya dibiarkan, artinya UIN tidak mampu memberikan ruang yang sama,” ungkapnya.

Menurut nya, berikan kebebasan kepada setiap mahasiswa memilih organisasi eksternal untuk berproses, biarkan mereka memilih.

Pada kericuhan menyebabkan kader HMI terluka, ia menilai setiap perbuatan harus ada pertanggungjawaban secara hukum.

“Proses hukum dibutuhkan, sebab ini bukan yang pertama, tapi yang paling mendasar yang harus diperbaiki sistem di UIN itu memberikan ruang yang sama kepada setiap organisasi Kemahasiswaan walaupun berbeda bendera,” pungkasnya. (*)

Media Patner :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *